By Admin LSP KATIGA PASS
19 Juni 2026 11:19:01
Pernah mengalami situasi seperti ini?
Di satu sisi ruangan, ada rekan kerja yang mengeluh kepanasan dan diam-diam menurunkan suhu AC menjadi 20°C. Di sisi lain, ada yang sudah memakai cardigan, jaket, bahkan syal tipis karena merasa seperti bekerja di dalam lemari pendingin.
Fenomena ini begitu umum sampai sering menjadi bahan candaan di kantor. Namun ternyata, perdebatan soal suhu ruangan bukan sekadar masalah selera atau kebiasaan.
Ada fakta menarik yang jarang diketahui banyak orang: standar suhu kantor modern yang digunakan di berbagai negara ternyata berasal dari model perhitungan metabolisme pria yang dikembangkan pada tahun 1960-an.
Akibatnya, banyak pekerja wanita merasa suhu kantor terlalu dingin dibandingkan kebutuhan tubuh mereka.
Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi?
Mari kita bahas lebih dalam.
Istilah Room Temperature War atau "Perang Suhu Ruangan" merujuk pada perdebatan yang terjadi ketika penghuni ruangan memiliki preferensi suhu yang berbeda.
Fenomena ini paling sering ditemukan di lingkungan kerja karena puluhan bahkan ratusan orang harus berbagi sistem pendingin udara yang sama.
Masalahnya, tubuh manusia tidak merasakan suhu dengan cara yang identik.
Faktor seperti:
semuanya memengaruhi bagaimana seseorang merasakan panas atau dingin.
Namun selama puluhan tahun, standar suhu kantor banyak didasarkan pada satu profil manusia yang sangat spesifik.
Pada era 1960-an, para peneliti mulai mengembangkan model kenyamanan termal (thermal comfort).
Tujuannya sederhana: menentukan suhu ideal yang membuat sebagian besar orang merasa nyaman saat bekerja.
Salah satu model yang kemudian menjadi acuan global menggunakan data dari seorang pria dengan karakteristik berikut:
Masalahnya, model tersebut kemudian digunakan secara luas untuk mendesain sistem pendingin gedung modern.
Artinya, kebutuhan biologis kelompok lain tidak terlalu banyak dipertimbangkan.
Metabolisme adalah proses tubuh menghasilkan energi untuk menjalankan berbagai fungsi biologis.
Secara umum, pria memiliki massa otot lebih besar dibanding wanita.
Karena otot menghasilkan panas tubuh, pria rata-rata memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi.
Akibatnya:
Ketika suhu kantor diatur berdasarkan kebutuhan metabolisme pria, banyak pekerja wanita akhirnya merasa tidak nyaman.
Tubuh wanita secara alami menghasilkan panas lebih sedikit dibanding pria.
Selain itu, distribusi aliran darah pada wanita juga berbeda.
Ketika berada di lingkungan dingin, tubuh lebih cepat mengurangi aliran darah ke tangan dan kaki untuk menjaga suhu inti tubuh tetap stabil.
Inilah alasan mengapa banyak wanita mengeluhkan:
meskipun rekan kerja pria di sebelahnya merasa suhu tersebut "normal".
Standar suhu kantor lama juga dibuat berdasarkan asumsi bahwa pekerja menggunakan pakaian formal yang relatif tebal.
Namun saat ini kondisi sudah berubah.
Banyak pekerja wanita mengenakan pakaian yang lebih ringan dibanding setelan jas pria.
Ketika suhu ruangan tetap menggunakan standar lama, rasa dingin menjadi semakin terasa.
Dari sudut pandang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), kenyamanan termal bukan sekadar masalah kenyamanan.
Ini berkaitan langsung dengan performa kerja dan kesejahteraan pekerja.
Ketika seseorang merasa terlalu dingin, tubuh akan mengalokasikan energi untuk mempertahankan suhu inti.
Akibatnya, fokus dan konsentrasi dapat menurun.
Pekerja menjadi lebih mudah terdistraksi karena terus memikirkan rasa tidak nyaman yang dirasakan.
Lingkungan yang terlalu dingin juga dapat memicu:
Terutama bagi pekerja yang duduk dalam waktu lama.
Hal yang sering terlupakan adalah dampak psikologis.
Ketika pekerja merasa lingkungan kerjanya tidak mendukung kenyamanan dasar, tingkat kepuasan kerja juga bisa ikut menurun.
• Sebuah penelitian yang banyak dikutip menemukan bahwa model kenyamanan termal yang digunakan selama puluhan tahun cenderung melebih-lebihkan tingkat metabolisme wanita hingga sekitar 35%.
• Banyak gedung perkantoran modern masih menggunakan standar pendinginan yang dikembangkan berdasarkan data puluhan tahun lalu.
• Beberapa penelitian menunjukkan performa tugas kognitif wanita justru meningkat ketika suhu ruangan sedikit lebih hangat dibanding suhu kantor konvensional.
Tentu tidak.
Tujuan utama sistem pendingin udara tetap penting, yaitu menjaga kenyamanan, kualitas udara, serta mengurangi risiko kelelahan akibat panas.
Yang perlu dilakukan adalah menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan berbasis data.
Bukan hanya mengakomodasi satu kelompok saja.
Daripada menetapkan satu angka mutlak, gunakan rentang suhu yang memungkinkan mayoritas pekerja merasa nyaman.
Banyak ahli menyarankan kisaran sekitar 23–26°C untuk lingkungan kantor, tergantung kondisi setempat.
Lakukan survei sederhana setiap beberapa bulan.
Tanyakan:
Data nyata dari pengguna ruangan jauh lebih berharga dibanding asumsi.
Ergonomi adalah ilmu yang menyesuaikan lingkungan kerja dengan kemampuan dan kebutuhan manusia.
Dalam konteks suhu ruangan, artinya bukan memaksa manusia menyesuaikan diri terhadap gedung, melainkan membuat gedung yang menyesuaikan kebutuhan penggunanya.
Pada kantor modern, konsep thermal zoning mulai banyak digunakan.
Artinya, area tertentu memiliki pengaturan suhu yang berbeda sehingga pekerja dapat memilih lokasi yang paling nyaman.
Jika kantor mempertahankan suhu rendah, pekerja sebaiknya diberikan fleksibilitas untuk menggunakan pakaian tambahan yang nyaman.
Pendekatan ini jauh lebih realistis dibanding memaksa semua orang merasa nyaman pada suhu yang sama.
Perdebatan soal suhu AC kantor ternyata bukan sekadar masalah "si paling kedinginan" atau "si paling gerah".
Di baliknya ada sejarah panjang mengenai bagaimana standar kenyamanan termal dibangun berdasarkan data metabolisme pria pada era 1960-an.
Seiring berkembangnya ilmu ergonomi dan K3 modern, semakin banyak organisasi yang menyadari bahwa kenyamanan kerja harus mempertimbangkan keberagaman kebutuhan manusia.
Karena pada akhirnya, tempat kerja yang nyaman bukanlah tempat yang membuat sebagian orang menggigil dan sebagian lainnya berkeringat.
Melainkan lingkungan yang mampu mendukung kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan seluruh pekerjanya.
Bagaimana dengan pengalaman Anda? Apakah Anda termasuk tim "AC kurang dingin" atau tim "tolong naikkan suhu AC"? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar, karena bisa jadi Anda sedang merasakan dampak dari standar yang sudah berusia lebih dari setengah abad.